Saturday, February 28, 2015

Pesapean Permainan Tradisi Madura


PESAPEAN
PERMAINAN TRADISI ANAK MADURA

 









14030184011
HUSNI MUBAROK
PFC (pendidikan fisika C)



DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2014


PESAPEAN
PERMAINAN TRADISI DAERAH SUMENEP MADURA




A.      PENGERTIAN


Pesapean adalah permainan rakyat tradisional yang hanya terdapat di Kabupaten Sumenep, tepatnya di daerah Kecamatan Ambunten yakni di desa-desa Ambunten Tengah dan Tamba Agung Barat Kabupaten Sumenep. Secara harfiah kata Pesapean (bahasa Madura) berarti sapi akan tetapi maksudnya bukan berarti sapi sebenarnya, namun menyerupai bentuk sapi.
Permainan Pesapean bersifat religius magis, karena permainan ini merupakan bagian dari upacara minta hujan, yang mempunyai kaitan kepercayaan yang kuat dengan kehidupan petani dan pe­ternak sapi, yang kegiatannya tergantung pada perubahan musim, seperti kemarau yang panjang akan menyebabkan pertanian ter­hambat. Permainan ini dilaksanakan waktu upacara minta hujan yakni pada musim kemarau, di waktu siang hari. Pesapean dapat pula etangga (diundang bermain) untuk selamatan perkawinan, yang dalam pelaksanaannya terpisah dari upacara minta hujan. Akan tetapi yang mengundang harus memenuhi persyaratan, yakni harus menyediakan sesajen tertentu.
Bagi para petani, permainan ini merupakan suatu permainan yang khas, karena di dalamnya terkandung unsur religius magis di mana ada sa’saba (sesajen) yang diunjukkan kepada Se Araksa (Yang Kuasa), lengkap dengan pembacaan do’a secara Islam, untuk memohon keselamatan dan kebahagiaan segenap penduduk desa dunia akherat, agar segera diturunkan hujan sehingga panen­nya berhasil.


B.       PERATURAN PERMAINAN

Para pelaku dari permainan Pesapean ini terdiri dari enam atau tujuh orang. Dua orang yang memakai topeng sapi dan masing- masing ada yang menjadi pengendali sapi dengan memegang tali kendali lalu dua atau tiga orang lagi bertopeng yang menjadi badut. Semua pemain ini terdiri dari para petani laki-laki dewasa atau agak tua. Laki-laki yang menjadi sapi ini memakai topeng sapi, sedangkan yang menjadi badut juga memakai topeng yang aneh-aneh tetapi lucu.
Karena permainan Pesapean ini merupakan bagian dari pada upacara minta hujan, maka yang diutamakan adalah penyelengga­raan upacara itu sendiri. Upacara itu diselenggarakan di tengah ladang. Sebagai tanda pusat upacara, maka di sana dipancangkan anjer umbul-umbul dan di bawahnya diletakkan ba’saba yang di­tempatkan di atas ancak. Di dekatnya selalu mengepul asap kemenyan dupa. Penduduk desa lalu mengitari tempat pusat upacara yang akan diselenggarakan.
Setelah dibacakan do’a permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang maksudnya agar terkabul hajat pen­duduk desa serta kebahagiaan dunia akheral, maka ke luarlah para pemain Pesapean dengan diiringi irama sronnen. Sapi-sapi tiruan yang berpakaian dengan perlengkapannya lalu menggerak-gerakkan tubuhnya yang seakan-akan sedang menari sambil menelusuri ladang-ladang gersang di tempat upacara itu. Gerakan-gerakan permainan dari dua orang manusia bertopeng sapi yang masing-masing orang ada pengendalinya itu mengge­rak-gerakkan, seluruh tubuhnya seperti sapi yang sedang mem­bajak tanah-tanah ladang. Dan di depan pasangan sapi-sapian itu ada dua atau tiga orang badut yang bertopeng. Badut-badut yang bertopeng, menyerupai kucing, lalu menari-nari dan menimbulkan gerak gerakan yang lucu seakan-akan menunjukkan jalan, ladang  mana yang akan dibajak.
Gerakan-gerakan ritus dari Pesapean itu tidak berlangsung lama, kira-kira hanya antara setengah atau satu j&m sudah selesai. Dengan selesainya permainan pe-sapean, maka selesai pula upacara minta hujan di desa tersebut.
Sehari sebelum upacara minta hujan dimulai, di ladang yang akan ditempati upacara, telah ramai orang yang berjualan, meski­pun di situ tidak ada tontonan. Apabila etangga (diundang) orang untuk meramaikan upacara khitanan maka permainannya agak. lama, dan gerakan-gerakannya pun lebih bebas di mana para badut­nya lebih lucu tingkah lakunya. Sebelum bermain, sesajen yang harus disediakan oleh pengundang terlebih dahulu dibakari ke­menyan dan diberi bunga. Hal ini dimaksudkan agar permainan itu berlangsung Tancar dan selamat.



C.      PERLENGKAPAN
Peralatan yang dipergunakan untuk permainan Pesapean ini terdiri dari topeng berikut segala perlengkapannya, ba’saba (sesa­jen) serta satu stel gamelan sronen. Sronnen sebagai gamelan pengiring permainan Pesapean ini ter­diri dari: sebuah kendang kecil dan sebuah kendang besar, sebuah gong kecil dan gong besar, sebuah atau dua buah sronnen (se­macam klarinet khas Madura).
 Perlengkapan topeng yang menyangkut permainan Pesapean terdiri dari:
1.       Empat buah rape (perlengkapan penutup bagian badan sapi di depan)
2.       Empat buah jamang (mahkota di kepala sapi)
3.       Empat buah sabbau (untaian kain yang dikaitkan-di leher)
4.       Sampur yang dipakai sapi dan peng­endali masing-masing selembar, jadi berjumlah enam lembar
5.       Empat buah kalembang (sayap) yang dipakai oleh sapi
6.       Empat buah gungseng (genta) yang ditaruh di kaki sapi
7.       Dua utas tali atau selendang pengikat lengan sapi agar bergandengan menjadi satu
8.       Dua untai bunga merah yang ditaruh di atas tali
9.       Pengikat lengan sapi yang digandeng masing-masing seuntai dan masing-masing empat stel baju dan celana tanggung yang dipakai sapi. Baju ter­sebut berwarna biru dan celana berwarna hijau
10.    Juga tidak lupa pakaian adat desa yang berwarna hitam dan kaos lurik merah untuk kedua pengendalinya
11.    Tiga atau dua topeng berikut baju yang lucu, yang dipakai badut-badut
12.    Dua buah cambuk yang dipegang oleh kedua pengendali sapi.

Sedangkan perlengkapan ba’saba’ (sesajen) untuk searaksa terdiri dari sebuah anjer (bambu panjang yang dipancangkan di tempat upacara dengan dihiasi umbul-umbul), dan sebuah ancak yang terbuat dari pelepah pisang dan dibangun seperti meja kecil segi empat untuk tempat sesajen. Ancak berikut sesajen ini ditaruh di bawah anjer, yang terdiri dari: nasi putih, sekkol (dibuat dari parutan kelapa), kembang bubur (bunga irisan pandan harum damar kembang (lampu minyak kelapa bersumbu kapas), aeng merra (air merah, dapat pula terbuat dari strup merah) di dalam gelas dengan bunga mawar merah dan jajan pasar yakni kue-kue yang dijual di pasar yang terbuat dari tepung beras dan dicetak menyerupai binatang. Apabila yang diundang itu orang? maka pengundang permainan itu yang harus menyediakan sesajen be­rupa beras yang ditempatkan di pennay (semacam kuali dibuat dari tanah dibakar), sebuah kelapa dan seekor ayam berbulu putih mulus. Dan sesajen tersebut nantinya diberikan kepada para pe­main.
Ba’saba (sesajen) disediakan untuk se araksa. Dan yang me­nyiapkannya adalah para wanita yang suci. Maksudnya, wanita yang sedang datang bulan tidak boleh turut bekerja.
Apabila waktu dan tempat untuk melaksanakan permainan ini telah ditentukan, juga para pelakunya telah ada, serta peralatan untuk memainkan permainan Pesapean ini telah disiapkan, maka permainan pun dapat dimulai. Dalam pelaksanaannya, permainan ini diiringi gamelan sronnen, karena sronnen sebagai gamelan pengiring dari permainanPesapean ini merupakan kesatuan.

D.      NILAI-NILAI

nilai-nilai yang terkandung dalam permainan ini, yakni rasa solidaritas yang spontanitas, kegotong-royongan dan religius magis.
1.       Rasa Solidaritas. Di sini tampak rasa solidaritasnya, yakni para pemain yang menjadi “sapi”. Karena permainan Pesapean ini untuk kepentingan,bersama, maka mereka rela untuk melaku­kan permainan tersebut.
2.       Kegotong-royongan Unsur kegotong-royongannya tampak jelas, dalam melakukan permainan pe-sapean. yakni yang ber­topeng sapi (menjadi sapi) dikendalikan oleh orang yang me­megang tali kendali.
3.       Religius magis. Unsur religius magis tampak, sebelum permainan ini dilakukan, terlebih dahulu disediakan perlengkapan ba’saba (sesajen) untuk Searaksa. Sesajen tersebut harus dilakukan oleh para wanita yang suci, maksudnya yang sedang datang bulan tidak boleh turut bekerja



No comments:

Post a Comment