Saturday, February 29, 2020

“Jum’at Berkah di Taipei Grand Mosque”, Sekilas Cerita di Negeri Minoritas



Assalamualaikum kawan-kawan,…
Di pagi yang cerah ini, ku mulai hariku dengan berolahraga di lapangan futsal kampus National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) untuk bermain futsal bersama dengan teman-teman Indonesia. Hari itu tepat tanggal 28 Februari 2020 merupakan hari libur nasional negara Taiwan “Peace Memorial Day”, sehingga kampus dan sekolah pada libur, Yeaahh…. tepatnya hari jumat. Matahari yang mulai menyinsing itu membuat tubuh kami berkeringat dan kepanasan. Walaupun masih musim dingin peralihan ke musim semi, pagi itu matahari terasa terik sekali dibading kemaren-kemaren yang sempet hujan.

Permainan futsal usai jam 10, kamipun kembali ke asrama tuk sarapan dan bersih diri. Saya pribadi masak nasi dan cuci pakaian, kemudian bersiap-siap berangkat ke masjid, tuk melaksanakan shalat Jum’at. Di negara Formosa ini tidak seperti Indonesia, yang dimanapun kita berada dapat mendengarkan suara adzan. Disini kami hanya bisa mendengarkan suara adzan di dalam masjid, karena pengeras suara tidak diperboleh menggangu tetangga, jadi setiap masjid di Taiwan hanya menggunakan loudspeaker dalam untuk pengeras suaranya.
Bersyukurlah kalian yang berada di daerah mayoritas muslim, karena kalian akan setiap saat mendapatkan panggilan dari Sang Maha Memiliki tuk menunaikan ibadah. Maka dari itu manfaatkan untuk ibadah on time dengan maksimal. Beda dengan kami yang berada di daerah minoritas ini, yang selalu harus waspada dan siap siaga untuk save diri. Mulai dari makanan, pakaian dan ibadah kami.
Untuk shalat berjamaah di negri Formosa ini sangatlah sulit, kalau kita tidak punya teman akrab sesama muslim atau berada di masjid dan mushalla. Karena jumlah masjid di negara ini sangatlah sedikit. Untungnya saya berada di pusat ibu kota negara Taiwan, sehingga jarak dari kampus ke masjid besar (Taipei Grand Mosque) dibilang dekat, walaupun kalau jalan kaki butuh waktu setengah jam untuk sampai di masjid besar Taiwan, tapi saya sangat bersyukur, dibandingkan dengan saudara muslim lainnya, yang perlu naik bus atau kereta untuk ke masjid dalam waktu yang cukup lama, dan ada juga yang tidak bisa ikut shalat Jum’at karena pekerjaan dan jarak yang lumayan jauh dari masjid.
Kembali ke bahasan awal, dimana sebenarnya saya ingin berbagi cerita tentang kekuasaan Allah dan kasih sayangnya-Nya yang saya saksikan di hari jum’at itu.  Tepatnya jum’at ke tiga saya di negeri ini, dua jum’at sebelumnya, jumlah Jemaah tidak terlalu banyak. Saya dan temanpun masih bisa masuk ke dalam masjid dan menempati shaff depan, akan tetapi pada jum’at ketiga ini jumlah jemaah sangat banyak. Biasanya sebelum khutbah, di dalam masjid masih banyak yang longgar, tapi pada hari itu sebelum khutbah, takmir masjid sudah menggelar tikar dan sajadah besar di halaman masjid. Karena di dalam dan serambi sudah penuh.
Jam 10 selesai kami main futsal, panas matahari cukup menyengat, diperkirakan ketika siang sekitar jam 12 sinar matahari akan membuat kulit kepanasan. Akan tetapi hal ini tidak terjadi, mendekati waktu masuk shalat jum’at, sebelum khotib naik ke mimbar, langit diatas masjid Taipei Grand Mosque berawan agak gelap, tapi tidak hujan. Sehingga para jemaah yang di halaman masjid tidak merasa kepanasan seperti ikan di jemur. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah yang bisa menggerakkan awan-awan tersebut memayungi para jemaah, dimana durasi khutbahnya kurang lebih 30 menit. Lumayan kalo misal gak ada awan, para jemaah seperti dijemur diterik matahari di siang bolong.

Setelah khutbah selesai kemudian melanjutkan shalat jum’at berjemaah. Uniknya ditengah-tengah shalat, awan yang memayungi Jemaah pada kabur entah kemana, sehingga para jemaah merasa kepanasan, termasuk saya yang juga shalat di bagian halaman masjid. Panas yang menyengat kulit itu membuat sebagian jemaah setelah shalat langsung bubar, karena kepanasan dan juga berada di tengah jalan, dan sayapun juga bergegas pindah tempat. Ketika melihat masjid dan para jemaah dari kejauhan, hati merasa terenyuh, karena masih diberi kesempatan dan kesehatan tuk menunaikan ibadah dan bertemu dengan saudara-saudara muslim yang lain dari berbagai negara.
Setiap kondisi itu akan bisa kita nikmati ketika kita berfikir dan merasakannya, yang pada intinya mengajak kita tuk terus bersyukur atas setiap kejadian dan apa yang kita miliki.
Ilmu hikmah, mungkin itu lebih tepatnya yang perlu kita pelajari. Supaya kita bisa mentafakkuri setiap kejadian yang menimpa kita dan orang lain. Ada tiga poin yang saya ambil dari kejadian di masjid besar Taipei, 1) kasih sayang Allah yang diberikan kepada kaum muslim minoritas tuk terus beribada, walaupun banyak tantangan menghambat, 2) ini masih sebagian yang sangat kecil sekali, panas yang dirasakan ketika shalat jumat, jika di bandingkan dengan para sahabat yang berperang di terik panas padang pasir dan mereka sedang berpuasa, 3) kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan rasional ekonomi, ketika bertemu dengan saudara-saudara muslim dinegeri minoritas (mungkin kalian yang masih berada di negara mayoritas islam, khususnya Indonesia tidak merasakan hal ini. Maka dari itu cobalah ke luar negeri, ketempat tidak ada suara adzan berkumandang).

Sekilas cerita di negeri minoritas, ini masih cerita satu hari saja di negeri Formosa. Semoga bisa berbagi cerita-cerita menarik lainnya di lain kesempatan, terimakasih sudah membaca, sampai jumpa di cerita selanjutnya.
Wassalamualaikum, Wr. Wb.



2 comments: