Saturday, May 30, 2015

Makam Troloyo



MAKALAH
MAKAM TROLOYO, PENINGGALAN MAKAM MUSLIM ZAMAN MAJAPAHIT


Disusun oleh:
                                    Husni Mubarok                                 (14030184011)
                                    Nur Shabrina Safitri                         (14030184036)
                                    Aulia Fitri Yunita                              (14030184060)
                                    Nurita                                                 (14030184103)

Pendidikan Fisika Kelas C 2014
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2015

DAFTAR ISI
Daftar Isi….......................................................................... i
Bab I Pendahuluan.............................................................1
Bab II Pembahasan............................................................. 3
Bab III Penutup................................................................... 6
Daftar Pustaka ................................................................... 7
Lampiran Foto..................................................................... 8


BAB  I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
          Keragamaan suku bangsa yang tersebar di Nusantara merupakan kondisi objektif yang penting dan sangat berpengaruh dalam keseluruhan proses penyebaran dan pembentukan tradisi Islam di Indonesia. Perbedaan suku bangsa itu tidak hanya menyangkut perbedaan bahasa, adat istiadat dan sistem sosio-kultural pada umumnya, tetapi juga perbedaan orentasi nilai yang menyangkut sistem keyakinan dan keragaman masyarakat. Kepercayaan dan tradisi lokal dalam masyarakat yang masih terdapat sisa-sisa tradisi memiliki sistem pengatahuan dan cara pandang yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Adanya hukum adat yang terbentuk dari tradisi sosial budaya masyarakat setempat merupakan bentuk jelas dari institusi lokal yang mengatur tatanan masyarakat. Bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam, berkembang pula kebudayaan Islam di Indonesia. Unsur kebudayaan Islam itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan Indonesia tanpa menghilangkan kepribadian Indonesia, sehingga lahirlah kebudayaan baru yang merupakan akulturasi kebudayaan Indonesia dan Islam. Akulturasi kebudayaan Indonesia dan Islam juga mencakup unsur kebudayaan Hindu-Budha. Kebudayaan iSlam dengan Hindu-Budha dapat dilihat dari Seni bangunan. Misalkan saja makam. Makam sebagai hasil kebudayaan zaman Islam memiliki cirri-ciri perpaduan atara unsur  budaya islam dan unsure budaya sebelumnya yaitu Hindu-Budha. Untuk itu akan dibahas akulturasi dari kebudayaan tersebut yang disertai foto sebagai bukti dan analisis laporan mata kuliah Islamism  dengan mengangkat judul Makam Troloyo, Peninggalan Makam Muslim Zaman Majapahit
B.   Rumusan Masalah
1.     Apa yang dimaksud dengan hasil akulturasi kebudayaan Islam dengan Hindu-Budha di Indonesia?
2.     Bagaimana sejarah dari makam Troloyo yang ada di Mojokerto?
3.     Apa hasil dari akulturasi kebudayaan tersebut pada zaman sekarang?
4.     Apa yang harus dilakukan oleh orang Musim di Indonesia?

C.  Tujuan
1.     Untuk mengetahui hasil akulturasi Islam dengan Hindu-Budha di Indonesia.
2.     Untuk mengetahui sejarah dari makam Troloyo yang ada di Mojokerto.
3.     Untuk mengetahui hasil akulturasi tersebut pada zaman sekarang.
4.     Untuk menjadikan aset hasil kebudayaan dan sikap yang harus dilakukan oleh Orang Muslim di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
         
Istilah akulturasi berasal dari bahasa Latin acculturate yang berarti “tumbuh dan berkembang bersama”. Secara umum, pengertian akulturasi (acculturation) adalah perpaduan dua buah budaya yang menghasilkan budaya baru tanpa menghilangkan unsur-unsur asli dalam budaya tersebut. Misalnya. proses percampuran dua budaya atau lebih yang saling bertemu dan saling memengaruhi. Telah kita ketahui bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan akulturasi budaya atau lebih dikenal dengan pribumisasi Islam. Banyak bentuk peninggalan akulturasi Islam dengan agama lain seperti Hindu ataupun Budha.
Di kota Mojokerto terdapat situs Trowulan yang merupakan salah satu peninggalan dari kerajaan Majapahit. Menurut cerita rakyat, Troloyo merupakan tempat peristrirahatan bagi kaum niagawan muslim dalam rangka menyebarkan agama Islam kepada Prabu Brawijaya V beserta para pengikutnya. Di hutan Troloyo tersebut kemudian dibuat petilasan untuk menandai peristiwa itu. Tralaya berasal dari kata setra dan pralaya. Setra berarti tegal/tanah lapang tempat pembuangan bangkai (mayat), sedangkan berarti rusak/mati/kiamat. Kata setra dan pralaya disingkat menjadai ralaya.
Situs Troloyo terkenal sebagai tempat wisata religius semenjak masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur, saat mengadakan kunjungan ziarah ke tempat tersebut. Sejak saat itu, tempat ini banyak dikunjungi peziarah baik dari Trowulan maupun dari daerah lain, bahkan dari luar Jawa Timur.Populernya Makam Troloyo ini juga disebabkan karena seringnya dikunjungi oleh para pejabat tinggi. Selain itu, pada hari-hari tertentu seperti malam Jumat Legi, haul Syekh Jumadil Qubro, dan Gerebeg Suro di tempat ini dilakukan upacara adat yang semakin menarik wisatawan untuk datang ke tempat ini.
Situs Troloyo merupakan salah satu bukti keberadaan komunitas muslim pada masa Majapahit. Situs ini terletak di Dusun Sidodadi, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Untuk mencapai situs ini dapat ditempuh dari perempatan Trowulan kearah selatan sejauh ± 2 km. Dahulu komplek makam Troloyo berupa sebuah hutan, seperti hutan Pakis yang terletak lebih kurang 2 Km di sebelah selatannya. Peneliti pertama kali P.J. Veth, hasil penelitiannya diterbitkan dalam buku Java II yang diterbitkan dalam tahun 1878. Kemudian L.C. Damais seorang sarjana berkebangsaan Perancis,hasil penelitiannya dibukukan dalam “Etudes Javanaises I. Les Tombes Musulmanes datees de Tralaya” yang dimuat dalam BEFEO (Bulletin de Ecole francaise D’extrement-Orient). Tome XLVII Fas. 2. 1957. Menurut Damais angka-angka tahun yang terdapat di komplek makam Troloyo yang tertua berasal dari abad XIV dan termuda berasal dari abad XVI.
Kepurbakalaan yang ada di Troloyo adalah berupa makam Islam kuna yang berasal dari masa Majapahit. Adanya makam kuna ini merupakan bukti adanya komunitas muslim di wilayah ibukota Majapahit. Adanya komunitas muslim ini disebutkan pula oleh Ma-Huan dalam bukunya Ying Yai - Sing Lan, yang ditulis pada tahun 1416 M. Dalam buku The Malay Annals of Semarang and Cherbon yang diterjemahkan oleh HJE. de Graaf disebutkan bahwa utusan-utusan Cina dari Dinasti Ming pada abad XV yang berada di Majapahit kebanyakan muslim. Sebelum sampai di Majapahit, muslim Cina yang bermahzab Hanafi membentuk masyarakat muslim di Kukang (Palembang), barulah kemudian mereka bermukim di tempat lain termasuk wilayah kerajaan Majapahit.
Pada masa pemerintahan Suhita (1429-1447 M), Haji Gen Eng Cu yang diberi gelar A Lu Ya (Arya) telah diangkat menjadi kepala pelabuhan di Tuban. Selain itu, duta besar Tiongkok bernama Haji Ma Jhong Fu ditempatkan di lingkungan kerajaan Majapahit. Dalam perkembangannya, terjadi perkawinan antara orang-orang Cina dengan orang-orang pribumi.
Adanya situs makam ini menarik perhatian untuk penelitian, antara lain P.J. Veth, Verbeek, Knebel, Krom, dan L.C. Damais. Menurut L.C. Damais, Makam Troloyo meliputi kurun waktu antara 1368–1611 M. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, hanya diketahui nama seorang yang dimakamkan di kompleks Makam Troloyo, yaitu Zainudin. Namun nisan dengan nama tersebut tidak lagi diketahui tempatnya, sedangkan nama-nama tokoh yang disebutkan di makam ini berasal dari kepercayaan masyarakat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ketika Majapahit masih berdiri orang-orang Islam sudah diterima tinggal di sekitar ibu kota. Ada dua buah kelompok atau komplek pemakaman: sebuah komplek terletak di bagian depan yakni di bagian tenggara dan sebuah lagi di bagian belakang (barat laut). Komplek makam yang terletak di sebuah bagian depan berturut-turut sebagai berikut :
1.     Makam yang dikenal dengan nama Pangeran Noto Suryo, nisan kakinya berangka tahun dalam huruf Jawa Kuno 1397 Saka (= 1457 M) ada tulisan arab dan lambang ‘surya Majapahit”.
2.     Makam yang dikenal dengan nama Patih Noto Kusumo, berangka tahun 1349 Saka (1427 M) bertuliskan Arab yang tidak lengkap dan lambang surya.
3.     Makam yang dikenal dengan sebutan Gajah Permodo angka tahunnya ada yang membaca 1377 Saka tapi ada yang membaca 1389 Saka, hampir sama dengan atasnya.
4.     Makam yang dikenal dengan sebutan Naya Genggong, angka tahunnya sudah aus, pembacaan ada dua kemungkinan : tahun 1319 Saka atau tahun 1329 Saka serta terpahat tulisan Arab kutipan dari surah Ali Imran 182 (menurut Damais 1850).
5.     Makam yang dikenal sebagai Sabdo palon, berangka tahun 1302 Saka dengan pahatan tulisan Arab kutipan surah Ali Imran ayat 18.
6.     Makam yang dikenal dengan sebutan Emban Kinasih, batu nisan kakinya tidak berhias. Dahulu pada nisan kepala bagian luar menurut Damais berisi angka tahun 1298 Saka.
7.     Makam yang dikenal dengan sebutan Polo Putro, nisannya polos tanpa hiasan. Menurut Damais pada nisan kepala dahulu terdapat angka tahun 1340 Saka pada bagian luar dan tulisan Arab yang diambil dari hadist Qudsi terpahat pada bagian dalamnya.
          Sebagian dari nisan-nisan pada Kubur Pitu tersebut berbentuk Lengkung Kurawal yang tidak asing lagi bagi kesenian Hindu. Melihat kombinasi bentuk dan pahatan yang terdapat pada batu-batu nisan yang merupakan paduan antara unsur-unsur lama unsur-unsur pendatang (Islam) nampaknya adanya akultrasi kebudayaan antara Hindu dan Islam. Sedangkan apabila diperhatikan adanya kekurangcermatan dalam penulisan kalimah-kalimah thoyyibah dapat diduga bahwa para pemahat batu nisan nampaknya masih pemula dalam mengenal Islam.

Kompleks makam Troloyo ada dua kelompok makam. Di bagian depan (tenggara) dan di bagian belakang (barat laut). Makam di bagian depan diantaranya: Kelompok makam petilasan Wali Sanga, Kemudian di sebelah barat daya dikenali dengan sebutan Syech Mulana Ibrahim, Syech Maulana Sekah dan Syech Abd, Kadir Jailani. Ada pula Syech Jumadil Kubro. Sedang di utara Masjid terdapat makam Syech Ngudung atau Sunan Ngudung. Kompleks makam di bagian belakang meliputi: Bangunan cungkup dengan dua makam yaitu Raden Ayu Anjasmara Kencanawungu, kemudian terdapat pula kelompok makam yang disebut Makam Tujuh atau Kubur Pitu yang dikenal sebagai Pangeran Noto Suryo, Patih Noto Kusumo, Gajah permodo, Naya Genggong, Sabdo palon, Emban Kinasih dan Polo Putro.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan yang bisa didapat dari makalah ini adalah:
1.     Akulturasi budaya kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan Hindu-Budha nampak pada nisam dari makam Troloyo, dibuktikan dengan adanya lambang kerajaan Majapahit pada salah satu nisannya.
2.     Pengaruh Islam pada masa itu dibawa oleh niagawan Cina yang beragama Islam dan singgah di kawasan Troloyo. Seperti biasa, selagi mereka berniaga, para pedagang Cina itu juga turut mengembangkan Islam di kerajaan Majapahit. Sehingga pada daerah Troloyo ditemukan 7 situs pemakaman yang identik dengan lambang kerajaan Majapahit dan tatanan dari makam yang berupa Lengkung Kurawal yang tidak asing lagi bagi kesenian Hindu.
3.     Makam Troloyo menjadi situs wisata religi sejak zaman pemerintahan presiden Abdulrahman Wahid. Akulturasi itu mampu menarik para wisatawan yang tidak hanya ber-ziarah namun juga mampu membelajarkan bahwa beda itu tidak selalu identik dengan perbedaan.
4.     Muslim Indonesia bisa lebih menjalan Islam dengan sebaik-baiknya. Islam datang di Indonesia tanpa kekerasan, Islam masuk di Indonesia dengan membawa corak-corak baru dalam budayanya yang sekarang juga mengakar pada budaya Kejawen. Sebagai budaya tradisional yang perlu dilindungi masyarakat muslim Indonesia harus ikut menjaganya. Dengan kajian-kajian Islam modern yang ada saat ini, tidaklah perlu menilai bahwa ziarah pada makam itu salah, tidak ada yang salah dengan membaca kalimat-kalimat tahlil dan thayyibah, semua kembali bergantung pada niat awalnya.


DAFTAR PUSTAKA



No comments:

Post a Comment