Saturday, May 30, 2015

Upacara Rokat Tase' Madura



UPACARA ROKAT TASE’ MADURA
By: Husni Mubarok
RokatTase’ juga disebut Petik Laut,atau Larung Sesaji bagi masyarakat Jawa, merupakan peristiwa ritual yang dilakukan para nelayan sebagai bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa yang telah memberi limpahan hasil ikan tangkapan di laut.
Demikian pula yang dilakukan masyarakat nelayan di kecamatan klampis kabupaten bangkalan, Upacara ritual Rokat tase’ yang sebelumnya diawali parade kesenian tradisi masyarakat setempat, dimulai arakan sesaji yang akan dilarung ke laut serta pertunjukan ludruk (ketoprak) dengan mengambil cerita sekitar sejarah terjadinya rokat tase’.
Para penduhulu mereka, salah seorang pelaku rokat tase’, pada jaman dulu, katanya,  ada seorang  kesohor dengan pembatunya ketika menjala ikan di laut (setelah sekian lama  tidak mendapatkan hasil tangkapan ikan) tiba-tiba  mendapatkan ikan besar. Namun,  ketika ikan itu diraihnya ikan tersebut berbicara dan meminta agar dilepaskan kembali,  dan ikan itu berjanji akan menggantikan tangkapan ikan yang lebih banyak.
Atas permintaan ikan tersebut, sang tokoh tentu melepaskannya. Anehnya,  pada tangkanikat selanjut, dia benar-benar menghasilkan tangkapan ikan yang melimbah.
Pada saat setelah itulah, secara rutin setiap tahun, yang biasanya dilakukan bulan pertama, para masyarakat nelayan setempat melakukan rokat, yaitu selamatan memberi sekedah kelaut. Dan selama melakukan rokatan itukan, kehidupan nelayan setempat menjadi makmur. Meski demikian. mitos yang di bangun dari cerita tersebut dilakukan sebegai bentuk tradisi  memungkinkan masyatakat nelayan menjadi lebih bergairah ketika sedang melaut.
Mengingat masyarakat klampis menganut Islam yang taat, dalam prosesi rokattase’,   mereka melibat para ulama dan kiyai untuk menyambung doa. Maka menjelang pelepasan (larung) sesaji kelaut  dilakukan doa bersama yang diawali dengan sholawatan dan tahlilan dengan harapan doa-doa tersebut mengantar para nelayan mendapat hasil yang melimpah.

Membangun Rasa Sosial
Sebelum dilepas (dilarung), tempat sesaji, kemudian disebut bitek sejenis perahu kecil ,dibuat sedemian rupa agar dapat diisi aneka benda yang dianggap “mewakili” barang-barang kepemilikan para nelayan, berupa apa saja, bisa  kain, makanan, hasil pertanian dan lainnya, kemudian diinapkan dan diletakkan dermaga tempat nelayan  akan berlabuh (jaghangan)  selama dua malam.
Awalnya rokat tase’ ini dinamai rokat jaghangan, karena rokatnya berlangsung di tepi pantai dimana para nelayan menyandarkan perahunya, sebelum berlayar menuju laut. Disetiap desa dimana disitu ada jaghangan, biasanya mereka para nelayanan juga melakukan rokat tase’.
Perahu-perahu yang akan mengantar bitek ke laut

Maksud penginapan wadah sesaji tersebut, untuk memberi kesempatan pada masyarakat yang lain,  barang kali mau “menitipkan” sesajinya melalui wadah tersebut, hal ini dilakukan dengan suka rela, dalam bentuk apa saja. Tapi umumnya dalam bentuk uang. Namun yang pokok dalam sesaji, yaitu kepala kambing.
Pada saat menjelang rokat tase’ para warga sekitar memperingatinya dengan memasak makanan hidangan. Hal itu dilakukan setiap rumah warga. Dari hidangan nasi dan lauk-pauknya disiapkan untuk para warga, kerabat dan tamu-tamu  yang menghadiri dan menyaksikan rokat tase’. Dalam hal silatur rahmi memang berusaha kami bertahankan, yang juga merupakan bentuk rasa syukur kami atas limpahan rahmat Allah melalui jala ikan kami di tengah laut.

Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara rokat tase’
Adapun nilai yang terkandung dalam upacara rokat tase’ adalah gotong royong yang  dapat menyatukan warga dan mempererat tali persaudaraan antar warga dalam kehidupan bermasyarakat, serta kerja keras untuk mencapai tujuan hidup. Dengan landasan yang sama (senasib dan seperjuangan) dan disertai tekat yang kuat untuk mewujudkan kesejahteraan,  ketentraman dan keharmonisan dalam masyarakat serta berSyukur kepada Sang  Pencipta atas limpahan rahmat dan rizkiNya. Mereka rela mengeluarkan dana, mencurahkan pikiran dan tenaga yang cukup besar untuk terlaksananya upacara rokat tase’ tersebut.
Nilai-nilai karakter daerah-daerah tersebut yang menjadi identitas bangsa, yaitu saling gotong royong, kerja keras dan bersatu dalam mencapai tujuan, dengan landasan agama, budaya, norma-norma dan adat-istiadat dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.





Silahkan kunjungi blog kami blogmubarok.blogspot.com untuk mencari beberapa artikel yang menarik, dan bagaimana fisika dan islam menjawab beberapa pertanyaan yang unik dan mengesankan...

1 comment: