Thursday, January 19, 2017

Pendidikan Karakter Melalui Pemikiran Kritis



A.     Dari mana Karakter (ciri khas individu) Buruk?
Banyak fenomena terjadi di negara kita Indonesia yang asal muasalnya adalah berhungan dengan karakter. Beberapa fenomena baru-baru ini yang disuguhi di depan layar kaca terjadi seperti papa minta saham, korupsi, prostitusi artis, aborsi, seks bebas, dan masih banyak lagi.   Kasus itu disuguhkan hampir tiap hari yang dilakukan orang yang seharusnya menjadi teladan. Jika ditinjau asal muasal fenomena tersebut maka jawabannya adalah karakter individu. Sedankan ditinjau asal dari karakter dibentuk dari dua aspek yaitu sikap internal dan lingkungan.
Karakter yang dimiliki individu memang dapat diturunkan dari orang tuanya. Orang tua yang tempramen cenderung anak juga memiki sifat yang sama. Ibu yang sabar cenderung anak juga memiliki sifat yang sabar. Sehingga pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya adalah ungkapan yang benar. Biasanya ini merupakan bawaan yang sulit diubah, bukan berarti tidak dapat diubah. Untuk merubah meka diperlukan faktor ekstern yang sangat kuat dan berlangsung secara berkelanjutan. Namun karakter yang semacam ini tidak lebih berpengaruh terhadap keseluruan karekter seseorang dari pada karakter dari lingkungan.
Selain hereditas, emosi atau sebut saja nafsu juga salah satu penyumbang karakter individu. Nafsu itu pada dasarnya dapat mendorong seseorang untuk maju. Namun bagaimanapun dorongan manusia diberikan nafsu untuk dikendalikan. Kalau dilihat kerakusan dan ketamakan asalmulanya karena dorongan nafsu. Jika dorongan nafsu dibiarkan, maka tidak ubahnya bahkan lebih rakus dari pada hewan.
Jika ditinjau secara makro penyebab terjadinya kemerosotan karakter bangsa adalah sumbangsi dari lingkungan individu atau pihak eksternal. Lingkungan tersebut seperti sistem yang hampir setiap detiknya membentuk karakter individu. Misalnya seorang pejabat negara mempunyai sifat baik, akan mudah sekali rusak ketika setiap hari melihat teman-teman sejajaran melakukan korupsi, penyuapan, memuluskan rencana buruk dan seterusnya. Seorang polisi lalu lintas yang awalnya mempunyai sikap yang baik, tetapi ketika dia menilang seorang pelanggal lalu lintas, hampir yang ditilang melakukan negosiasi dengan sejumlah uang pada awalnya tidak menerima, lama-kelamaan ketika butuh akhirnya diterima juga. Seorang pejabat dilingkungan RT/RW misalnya berperilaku baik, akan tetapi karena tekanan dari atasan akhirnya melakukan pungutan liar ke warga. Contoh-contoh ini  akhirnya menular seperti virus ganas yang akhirnya menjadi membudaya menjadi kronis dan harus segera diamputasi jika tidak ingin meninggal hati nurani. Inilah yang biasa disebut John Lock dengan tabula rasa. Karakter seseorang dibentuk dari lingkungan.
Media massa merupakan pihak eksternal turut menyumbang terhadap karater individu. Tanyanagan televisi yang tidak mendidik akan menyebabkan kerusakan moralitas bangsa. Berita kekerasan seorang anak menghamili ibu kandungnya, seorang ibu menggugurkan anaknya, dan seterusnya menjadi tontonan tidak asing lagi seakan-akan perbuatan tersebut adalah perbuatan biasa.  Remaja mengidolakan artis sampai mereka rela ditiduri. Remaja meniru adegan-adegan pacaran yang akan menjurus pada seks bebas. Tayangan infotainment yang mengupas perceraian artis, gonta-ganti pacar, dan seterusnya akan ditiru, karena mereka telah mengidolakan sehingga apa yang dikatakan atau dilakukan akan menjadi dorongan untuk dilakukan. Sehingga tidak salah kalau Munas dan Komber NU 2006 mengharamkan infotainment.
Selain media, lingkungan terdekat seperti teman main, teman sekerja, ayah, ibu, istri juga turut menyumbang karakter seseorang. Karena desakan dari istri yang hidaup mewah seorang suami akan melakukan tidakan korupsi, yang selanjutkan jika tidak ketahuan maka akan berulang dan menjadi watak untuk berbuat korupsi. Seorang teman yang mengajak untuk berbuat seks bebas dengan iming-iming imbalan uang.  Teman kerja yang tidak baik akan menimbulkan seorang individu tidak baik pula. Hai ini sesui dengan konep ZPD dari Vigostky.
Selain itu sistem yang membuat orang menjadi mempunyai karakter yang tidak baik. Misalnya Ujian Nasional menjadi patokan kelulusan. Seorang anak dipaksa harus lulus dengan berbagai cara sehingga sekolah 3 tahun tidak sia-sia. Sekolah dipaksa untuk melulusan anak supaya sekolahnya tidak sepi meminat karena banyak yang tidak lulus. Dinas pendidikan dipaksa untuk menluluskan anak karena dijadikan prestasi kabupaten atau kota ataua propinsi. Sehingga karena pemaksaan sistem dilakukan pembocoran soal, contekan masal, dan perbuatan tidak jujur lainnya.

B.      Pijakan Karakter Baik dalam Islam?
Untuk menjadikan seseorang baik maka dipelukan teladan. Sementara teladan yang paling sempurna adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak.
   “Sesungguhnya aku diutus, (tiada lain, kecuali) supaya menyempurnakan akhlak yang mulia”
“sesungguhnya telah ada pada diri Rasululah itu suri tauladan bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari qiamat serta banyak berdzikir kepada Allah” (QS 33;21)
Banyak sekali yang telah ditedankan oleh Rasullullah SAW. Dari aspek yang sederhana sampai pada aplikasi yang sangat sulit. Semuanya telah dicontohkan. Firman Allah:
Dan sesungguhnya kamu Muhammad benar-benar terdapat akhlak yang mulia.

C.      Karakter Bangsa
Karakter bangsa Indonesia adalah nilai yang terkandung pancasila. Masing-masing sila mencerminkan karakter baik. Sehingga karakter baik ini seharusnya  menjadi karakter setiap warga negara Indonesia. Sila petama ketuahan yang maha esa, mengharuskan sikap spiritual melandasi dari setiap perilaku. Perilalu terpuji dipupuk melalui nilai-nilai agama. Sehingga nilai ketaqwaan membuat seorang individu akan terbentengi dari perbuatan buruk. Seakan adanya bisikan dari tuhan melalui hati kecilnya bahwa itu harus dilakukan dan tidak. Ketika ada tawaran melakukan perbuatan buruk seketika itu hati memberitahu untuk meninggalkannya.
Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradap merupakan cerminan bahwa harusnya kedilan merupakan landasan ketika memimpin. Kita tahu bahwa setiap kita adalah pemimpin paling tidak memimpin diri sendiri. Adil merupakan sikap yang menempatkan pada tempatnya. Sehingga untuk  menjadi seorang pemimpin diri harus berperilaku adil terhadap setiap organ baik secara fisik maupun rohani. Secara fisik, berperilaku-periku yang membuat organ tidak sehat seharusnya dihindari seperti minuman keras, narkoba, dan segala macamnya. Sedankan secara rohani, sikap-sikap iri, dengki, takabur, merupak penyakit rohani yang harus dikendalikan karena membiarkan sama saja dengan tidak adil kepada setiap anggota tubuh.
Sila Ketiga, persatuan Indonesia merupakan sikap untuk tidak terpecah-pecah, saling mendukung dalam kebaikan. Sila ke empat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan melandaskan sikap untuk mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat, tentu harus dilandasi kebijakan tidak dilandasi dengan   arogansi kepentingan sendiri atau kolompoknya. Sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan perwujudan untuk kemakmuran dengan sikap-sikap sosial. Saling menolong bekerjasama, gotong royon dan seterusnya.



A.     Bagaimana membentuk Karakter Baik?
Disamping nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila, sebagai warga negara yang berkarakter baik harus dilengkapi dengan empat pilar yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yaitu fathonah, sidik, amanah, dan tabligh. Empat pilar ini merupakan kunci holistik sebagai perisai dan juga tombak dalam membentuk diri sebagai manusia yang kamil dan berkarakter baik.

1.      Fathonah (cerdas/oleh pikir/ pemikiran kritis)
Namun sikap-sikap itu tidak akan menjadi karakter, apabila tidak disertai kesadaran untuk mengamalkannya. Pengamalan karakter ini perlu disertai pemikiran kritis dari setiap individu.  Untuk timbul kesadaran, maka digunakanlah akal. Setelah itu akal akan dapat mebuat rasionalisasi mengapa harus melakukan ini dan itu. Setip manusia diberikan akal digunakan untuk memikirkan sesuatu yang pada hasil akhirnya adalah memutuskan untuk melakukan sesuatu. Tahap masalah yang datang sampai pada justifikasi memerlukan pemikiran yang kritis.
Berpikir kritis untuk sampai pada keputusan untuk melakukan memerlukan tahapan. Menurut Bloom bahwa berpikir kritis ada pada tingkat kognitif menganalisis, mengevaluasi, sampai menciptakan kesimpulan cerdas. Sedangkan meurut Ennis (1996) berpikir kritis memiliki tahapan memfokuskan, memperoleh informasi, mengorganisasi, menganalisis, menggeneralisasi, dan mengevaluasi temuan masalah. Dari dua pendapat ini jika digabungkan maka akan ketemu langkah berpikir kritis menfokuskan masalah, menggalih informasi, menganalisis, mengaevaluasi, dan mencipta ide untuk dilakukan/justifikasi perilaku yang harus dilakukan.

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir(QS Al Baqoroh :219)
Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir(QS Al A'raf: 176)
Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir(QS Yunus: 24)
Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum-hukum-Nya) supaya kamu mau menggunakan akal.(QS Al Baqoroh: 242)



2.   Sidiq (Jujur/oleh hati)
Orang yang jujur akan menghasilakan pemikiran yang jernih, sehingga tidak membohongi atau merekayasa pemikiran. Jujur adalah kerja dari hati. Orang yang telah melakukan pemikiran kritis namun dalam hati tidak ada bisikan untuk berbuat jujur, maka pemikiran tersebut dapat saja membelok ke arah pemikiran buruk atau pemikiran yang mengarah kepada kuntungan pribadi/pembelaan pribadi. Oleh karena itu, hati merupakan pembisik akal supaya hasil pemikiran mengarah pada cara-cara yang baik.
Orang yang jujur hidupnya akan tenang, mengapa demikian? hati nurani akan mengatakan kebaikan sehingga kejujuran yang diucapkan atau yang dilakukan yang sejalan dengan hati nurani  akan memperkokoh saling dukung sehingga tidak ada friksi. Sebaliknya bila seseorang berdusta maka akan pertentangan yang besar dengan hati nurani. Dari siniliah akan timbul kegelisahan dan merasa bersalah.
Selain pengarah pemikiran, sifat jujur juga akan mempertegas perbuatan (amanah) karena dengan sifat jujur orang akan mantap dalam melakukan tindakan. Meraka tidak akan merasa ragu. Tindakannya akan mengarah pada perbuatan yang menjaga, menyampaikan, serta mememelihara yang diamanahkan kepadanya.

Hadist
 “Katakanlah yang benar walaupun itu pahit”

“Dari Abdullah ibn Mas’ud, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa kesurga…” (H.R.Bukhari).
Al Qur’an
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. [Al-Ahzab : 70 – 71]
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. [Ash-Shaff : 2 – 3 ]

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku : “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan (suka) menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. [Al-Israa’ : 53]

 
3.      Amanah

Amanah sangat berhubungan dengan perbuatan yang dilakukan dalam rangka menjalankan kepemimpinan. Orang yang amanah akan selalu perupaya proporsional ketika menjalankan tugas. Mereka selalu bekerja keras dalam rangkah menjalankan tugas tersebut. Perbuatan-perbuatannya ingin mensukseskan kebaikan-kebaikan yang diembannya.
Dimensi amanah ini sangat luas, mulai dari amanah terhadapt tugas dari sang kholiq, tugas dari piminan, tugas sebagai anak, tugas kepala rumah tangga, dan seterusnya.  Masing masing ini akan dikemdalikan oleh sifat dilakukan dengan baik atau malah tidak baik. Jika dilakukan dengan baik maka disebut amanah jika tidak maka disebut khianat.

 “Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw. bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban perihal rakyat yang dipimpinnya…”(H.R.BukhariMuslim)
“Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya” ( Q.S. Al-Mu’minun:8 )
Sesungguhnya Allah Swt menyuruh kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…”.( Q.S. An Nisa:58)
Wahai orang-orang yang beriman ,janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”.( Q.S. Al-Anfa:27)

4.      Tabligh

Tabligh mempunyai arti menyampaikan atau mengkomunikasikan. Hal ini erak kaitannya dengan berbuatan sholeh atau kesalehan sosial. Dalam pandangan yang lebih luas, tabligh dalam rangnka menyampaikan bukan hanya berupa lisan, tetapi lebih dari itu dapat berupa pebuatan yang menimbulkan kesenangan orang lain tentu dalam rangka menyampaikan keindahan kebaikan.
Kita sering memaknai tablig menyampaikan ajaran-ajaran Allah agar dijadikan sebagai pedoman hidup. Makna ini tentu tidak bersifat instan. Karena dalam menyampaikan bukan hanya bersifat transfer of knowledge tertapi bersifat kontruktif. Menyampaikan disini dapat berupa memberi teladan, mengajak dalam rangka peduli, menghargai, tidak memaksa, toleran, demokratis dan seterusnya. Dalam menyampaikan bukan bersifat memaksa dengan ancaman tetapi berperilaku lembut dalam berbuat supaya dicontoh adan diikuti.
Sehingga dalam penyebaran kebaikkan ini seseorang seharunya bersifat mempunyai empat sifat. Sifat yang pertama moderat (tawasuth) sehingga berada kedalam kondisi yang objektif. Saling menghargai perbedaan sehingga timbul toleransi (tasamuh). Kemudian bersifat seimbang (tawazzun) semua dilihat secara berimbang sehingga komperehsif. Serta bersikap adil (ta’addul ) tidak bersifat arogan serka anarkis atau dholim.

Dan siapakah yang lebih baik perkataanya daripada orang yang menyeru(manusia) kepada Allah dan mengerjakan amal shaleh dan berkata, “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)”. (Fishilat: 33)
Kalian adalah sebaik-baik umat yang di lahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat) kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah.” (ali imran: 110)
Dari abu sa’id Al-khudri ra. Berkata, “aku mendengar Rasululla saw. Bersabd, “Barang siapa melihat kemungkaran di lakukan di hadapannya, maka cegahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lidahnya. Jika tidak mampu maka bencilah dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lamahnya iman.” (Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i-At-targhib)


Silahkan kunjungi blog kami blogmubarok.blogspot.com untuk mencari beberapa artikel yang menarik, dan bagaimana fisika dan islam menjawab beberapa pertanyaan yang unik dan mengesankan...

No comments:

Post a Comment