Friday, February 15, 2019

Argumen Tarawih 20 Rakaat


Judul: Argumen Tarawih 20 Rakaat
pengarang: Harry Yuniardi. M.Ag
penerbit: Diedarkan via online dalam versi PDF hanya di web www.ltnnujabar.com untuk semua kalangan
Download: https://drive.google.com/file/d/1R92cxlatmEkeDKGgxZEl_xfbZzXG9CL1/view?usp=sharing

KATA PENGANTAR
Seperti biasanya, menjelang bulan Ramadlan yang seharusnya penuh berkah, di beberapa daerah malah penuh kegerahan akibat sebagian kelompok kecil masyarakat selalu menyerang bentuk peribadahan yang dilakukan oleh masyarakat lain yang berbeda dengannya.

Ya, shalat tarawih lah yang menjadi jalan mereka untuk memicu keributan, dengan dalih tarawih keliling (tarling) mendompleng nama MUI, mereka tak henti-hentinya di setiap kultum menyatakan bahwa tarawih yang benar itu adalah 11 rakaat, dan yang melakukan dengan 20 rakaat adalah bid`ah. Benarkah seperti itu?
Diskursus tentang shalat tarawih 20 rakaat, memang merupakan wacana usang bagi sebagian masyarakat. Namun nisbat kepada warga nahdliyin di beberapa tempat tertentu, wawasan tentang argumentasi kenapa shalat tarawih dikerjakan dengan 20 rakaat, jelas sangat diperlukan. Karena tidak dapat dipungkiri, bahwa masih banyak pihak-pihak yang kontra, senantiasa menyerang serta menyudutkan mereka yang sudah terbiasa melakukan shalat tarawih dengan 20 rakaat. Bagi masyarakat awam, ketika mereka diserang, dipertanyakan dalildalilnya, umumnya hanya bisa tertegun, dan yang paling menyedihkan, lantas berpindah haluan tidak lagi mengerjakan shalat tarawih dengan 20 rakaat.
Berangkat dari rasa prihatin atas kasuskasus seperti itu, selain karena memang saat itu ditugasi oleh para sesepuh PC NU Kab. Bandung, maka penulis memaksakan sekemampuan, untuk ikut membekali warga nahdliyin agar dapat mempertahankan argumentasi amaliyahnya, sehingga mereka semakin yakin atas apa yang telah dikerjakan dan telah menjadi kebiasaannya, tanpa perlu lagi bimbang meski diserang dengan berbagai pertanyaan dari berbagai pihak.
Walhasil, semoga risalah singkat ini bermanfaat, khusus bagi warga nahdliyin, serta bagi masyarakat umum lain yang tertarik untuk memahami amaliyah warga nahdliyin. Adapun kekurangan, itu sudah menjadi sebuah keniscayaan, oleh karenanya, sumbang saran serta koreksi akan penulis terima dengan lapang dada, demi perbaikan ke depan. Semuanya dari Allah, dan semua akan kembali kepada Allah.

No comments:

Post a Comment